Siang ini saya ada tugas ke luar kantor, diantar oleh supir kantor. Ada yang menarik sewaktu saya mengamati perilaku supir ini. Sepanjang perjalanan, dia sangat sering menggunakan telepon. telpon ke sana ke mari. sedikit heran tentang berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk aktifitas komukasinya itu. namun sejauh yang pengamatan saya, supir yang satu ini cukup produktif dalam menggunakan alat komunikasinya.
Dia menggunakan alat komunikasi (hp) untuk menghubungi beberapa orang yang sepertinya terkait dengan masalah bisnis. ya, ini yang saya suka dari orang-orang macam ini. meskipun dia seorang supir, dia berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan. saya sangat mengapresiasi itu. namun, di sini saya tidak ingin membicarakan hal tersebut.
Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya terkesan dengan supir yang satu ini, yaitu cara dia untuk tetap dekat dengan keluarganya. Sepanjang kurang lebih 3 jam perjalanan, mungkin dia telah lebih dari 2 (dua) kali menelpon anak dan istrinya. menanyakan kabar, menanyakan tentang aktifitas yang sedang mereka lakukan, menanyakan apa mereka sudah makan atau belum.
Terus terang, mungkin bagi sebagian orang hal tersebut sama sekali tidak menarik. mereka yang memandang tidak menarik bisa karena berbagai alasan. yang pertama, bisa saja mereka beranggapan bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat lumrah dan biasa mereka lakukan, sehingga tidak ada yang istimewa untuk dipuji dan diapresiasi atau kemungkinan lain adalah bahwa tindakan supir tersebut benar-benar "tidak masuk hitungan" untuk diapresiasi, bukan karena mereka biasa memperlakukan keluarga mereka demikian, namun karena mereka justru tidak pernah memperlakukan mereka demikian.
Dia menggunakan alat komunikasi (hp) untuk menghubungi beberapa orang yang sepertinya terkait dengan masalah bisnis. ya, ini yang saya suka dari orang-orang macam ini. meskipun dia seorang supir, dia berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan. saya sangat mengapresiasi itu. namun, di sini saya tidak ingin membicarakan hal tersebut.
Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya terkesan dengan supir yang satu ini, yaitu cara dia untuk tetap dekat dengan keluarganya. Sepanjang kurang lebih 3 jam perjalanan, mungkin dia telah lebih dari 2 (dua) kali menelpon anak dan istrinya. menanyakan kabar, menanyakan tentang aktifitas yang sedang mereka lakukan, menanyakan apa mereka sudah makan atau belum.
Terus terang, mungkin bagi sebagian orang hal tersebut sama sekali tidak menarik. mereka yang memandang tidak menarik bisa karena berbagai alasan. yang pertama, bisa saja mereka beranggapan bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat lumrah dan biasa mereka lakukan, sehingga tidak ada yang istimewa untuk dipuji dan diapresiasi atau kemungkinan lain adalah bahwa tindakan supir tersebut benar-benar "tidak masuk hitungan" untuk diapresiasi, bukan karena mereka biasa memperlakukan keluarga mereka demikian, namun karena mereka justru tidak pernah memperlakukan mereka demikian.
Orang-orang tipe kedua ini sebetulnya sudah terbiasa atau mungkin sudah membiasakan diri untuk bersikap tidak ambil bagian dari kehidupan keluarga. mereka, orang-orang ini bisa juga kita sebut orang yang cuek terhadap keluarganya. mereka tidak tertarik untuk menghubungi kelauara mereka. Mungkin bagi mereka menanyakan kabar, menanyakan apakah anak-anak dan istri mereka sudah makan atau belum adalah suatu yang basa-basi dan membuang-buang waktu.
Saya tidak ingin menghakimi siapapun. saya hanya ingin belajar dari supir ini. saya belajar banyak hari ini. belajar dari seorang supir, tentang bagaimana membina hubungan keluarga yang baik. Saya mungkin tidak betul-betul mengenal baik si supir ini. Yang saya tau adalah bahwa dia sudah menunjukkan kasih sayangnya terhadap keluarganya.
Saya ingin belajar dari supir ini. saya ingin, ketika saya membina hubungan keluarga kelak, saya berjanji untuk melakukan hal yang sama terhadap istri dan anak saya. Sesibuk apapun saya, saya ingin sekali berjanji bahwa saya akan menanyakan kabar keluarga saya tercinta. Saya ingin berjanji untuk melakukan itu. Saya berharap saya tidak mengingkari janji saya ini. Saya berharap saya tidak cukup kaku menghadapi rumah tangga saya kelak.
Saya tidak ingin melangkan salah. Saya sadar kekurangan diri saya. Saya orang yang kaku dan membosankan. Saya serius dan sulit untuk bersantai. Saya tidak ingin berasalan dengan sikap saya itu. Saya tidak ingin kompromi. Mungkin sulit bagi orang-orang seperti saya untuk bisa mengekspresikan perasaan/kasih sayang. Saya yakin saya bukan satu-satunya. Ada banyak orang di luar sana yang senasib dengan saya. mereka yang benar-benar sadar pentingnya hubungan baik dan kasih sayang, tetapi tidak pernah dapat menunjukkan ekspresinya.
Saya tidak mau mencari kambing hitam, saya tidak mau mencari-cari alasan untuk tidak seperti si supir. Saya harus sangat mudah untuk tersenyum, tertawa dan bercanda dengan keluarga saya kelak. Saya bangga dengan seorang ayah dan suami yang humoris, yang tidak hanya memberikan ketentraman bagi keluarganya, tetapi juga kehangatan dalam rumah tangga. Saya harus bisa melakukan semua itu. Saya harus belajar dari supir itu dan saya harus lebih berhasil darinya.
0 comments:
Post a Comment