Silahkan Isi Pesan Di Sini
Jasa Pasang Iklan Google Adwords
Thursday, January 1, 2015Posted by setiawan at 6:06 PM 0 comments
“PUKULAN IBLIS” YANG MEMBERI KEKUATAN
Sunday, March 14, 2010
Salah satu film favorit saya adalah Kung Fu Hustle, dari sisi jalan cerita dan logika, memang ini bukan film serius. Jangan berfikir bahwa kita akan menemukan banyak pemikiran dari film ini. Ini Cuma film hiburan. Benar-benar untuk hiburan. Isinya berupa action, dan lelucon, tapi saya sangat menyukainya. Walaupun hanya sekedar hiburan, ada satu adegan dalam film ini yang paling sangat saya sukai, yaitu ketika si jagoan (Stephen cow), yang pada awalnya hanyalah seorang pecundang, harus dipukuli bertubi-tubi oleh si musuh sakti “si iblis” dank arena itulah kekuatan dalam diri si jagoan, baru keluar.
Si jagoan ini pada awalnya benar-benar pecundang. Dia mencoba untuk menjadi seorang pahlawan yang ingin membela kaum yang lemah (pada waktu ia kecil), namun ternyata gagal. Begitu seringnya ia mengalami pengalaman pahit dalam hidupnya. Dicemooh, dilukai, dipukuli, dihina sudah jadi langganan bagi dia.
------------------------------------------------the end----------------------------------------
Setiap kali saya merasa terpuruk karena cobaan yang menimpa saya, saya selalu membayangkan cerita ini. Saya membayangkan bahwa saya adalah tokoh dari si pecundang. Pecundang yang kelak menjadi salah seorang pendekar terhebat sepanjang masa.
Posted by setiawan at 7:19 AM 0 comments
si Cantik di seberang peron
Thursday, February 4, 2010Cahaya lampu peron yang sedikit remang-remang, sedikit menutupi parasnya. Tapi, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Dia cantik. Sorot cahaya lampu seakan menyebarkan pesona kecantikannya.
Selalu di bawah tulisan itu dia duduk. “Stasiun Tebet”. Letaknya hampir persis di tengah-tengah peron. Manis sekali melihatnya duduk di sana. Dan aku cuma bisa memandangnya dari seberang. Ah…kalaupun aku di peron yang sama, aku juga tidak yakin akan menyapanya.
Seperti hari kemarin, dan hari-hari sebelumnya, aku cuma bisa memandangnya dari kejauhan. Dari seberang peron yang berjarak hanya beberapa meter. Hanya berjarak dua rel kereta. Kadang aku berhenti sejenak untuk hanya menatapnya beberapa saat, ah…dia cantik sekali. Manis sekali. Andai saja ada kesempatan mengenalnya lebih dekat.
Kadang, aku berfikir. “Jangan-jangan dia pernah satu gerbong denganku”, ah, tapi enggak mungkinlah. Pasti dia naik dari jalur yang berlawanan dengan aku. Lagipula kalaupun dia satu gerbong denganku, paling-paling aku juga tidak melakukan apa-apa. Paling-paling sama dengan yang kulakukan di seberang sini. Cuma menatapnya dari kejauhan dan cuma bisa bergumam dalam hati, “kamu cantik sekali sih”.
Sesekali aku mengambil tempat tepat di seberangnya. Di seberang peron ini, aku sering berdiri. Menatapnya lama-lama, sambil berpura-pura menantikan kereta datang. Aku berharap ada momen di mana aku bisa menyapanya.
Tiba-tiba aku menghayal, kalau saja dia ada di peron yang sama denganku, dan berdiri persis di sampingku, apa yang kira-kira aku perbuat?. Paling-paling seperti sebelumnya. Cuma diam mematung dan tidak melakukan apa-apa. Paling-paling diam memeluk erat tasku di depan, dan sesekali mencuri pandang. Yang pasti dia harus ada di sebelah samping kiriku. Karena keretaku datang dari arah sana. Namun jika dia di sebelah kananku, tentu saja dengan senang hati aku akan pindah tempat di sebelah kanannya, dan mudah-mudahan tidak ada orang di samping kanannya. Kalaupun ada, aku harap bukan laki-laki. Hahaha…
Ah….itu semua kan cuma seandainya. Toh, dia ada di seberang sana sekarang, sama seperti hari-hari kemarin.
Posted by setiawan at 6:45 AM 2 comments
Labels: Si Dia
Ngaca dong
Tuesday, February 2, 2010Katanya mau agar hidup dan segala urusannya dimudahkan oleh Allah, tapi sholatnya aja masih semaunya.
Hampir nggak pernah bisa sholat tepat waktu, terutama subuh
Boro-boro sholat, tau adzan subuh jam berapa aja, nggak (tau).
Mau jadi apa sih?
Ngomong doang
Apa sih yang buat kita berfikir bahwa Allah bakal ndenger do’a kita?
Jutaan ummat manusia, jutaan hambaNya sekarang ini, setiap hari,setiap detik, memohon padaNya
Mereka semua itu berdo’a
Mereka berdo’a juga untuk hal yang sama
Keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup
Terus, apa yang buat kamu berfikir bahwa Allah akan mendengar dan mengabulkan permintaan kamu?
Ibadahnya nggak beres, masih buat maksiat lagi.
Saingamu tuh banyak, tau!
Berkorban dikit dong!
Berapa banyak janji yang udah kamu berikan ama Dia
Janji mana aja yang udah dipenuhi?
Dulu minta supaya dikasih ini, itu
Terus kamu berjanji, kamu akan begini dan begitu, kalau yang ini dan itu terkabul
Coba dong, liat, sekarang yang udah kamu dapet apa?
Nikmat mana lagi sih, yang mau kamu ingkarin?
Ati-ati lho, jangan sampe omonganmu nggak laku lagi
Ati-ati, jangan sampe kamu janji-janji lagi
Do’a tuh pake mulut juga tau!
Ngaca dong!
Posted by setiawan at 1:44 PM 0 comments
Labels: Aku
Do'a
Ya Allah, berikanlah aku kemampuan yang baik dalam mengingat dan memperoleh informasi
Berikanlah aku kemampuan yang baik dalam mencari ilmu pengetahuan
Jadikanlah aku seorang ahli ilmu
Ya Allah, janganlah kau jadikan hamba orang yang kufur akan nikmat-nikmatmu
Jadikanlah hamba menjadi hambamu yang pandai bersyukur
Berikanlah hamba kemudahan dalam menyimpan dan memperoleh ilmu pengetahuan
Ya Allah, berikanlah hamba pintu rizkimu yang baik
Bukakanlah pintu rizkimu selebar-lebarnya bagi hamba ya Allah
Ridhailah hamba dalam mencari rizkimu Ya Allah
Ridhailah hamba dalam menggapai kesejahteraan Ya Allah
Dan janganlah hamba terlena karenanya Ya Alla
Ya Allah, Hamba ingin mensejahterakan diri hamba
Hamba ingin mensejahterakan keluarga hamba
Hamba ingin mensejahterakan orang-orang yang hamba cintai
Ya Allah, begitu banyak yang ingin hamba lakukan di dunia ini ya Allah
Berikanlah hamba kesempatan untuk menjadi salah satu hambaMu yang terbaik
Berikanlah hamba kesempatan, Ya Allah
Hamba ingin menjadi seseorang di dunia ini
Seseorang yang mempunyai arti
Usia hamba yang terus beranjak tua, Ya Allah
Dan hamba belum melakukan apapun, dan untuk siapapun.
Ya Allah, hamba tahu bahwa kau sayang terhadap hamba
Hamba tahu bahwa kau inginkan yang terbaik bagi hamba
Kau tidak mungkin membawa hamba sejauh ini hanya untuk menjadi bukan apa-apa.
Ya Allah, berikanlah hamba tempat yang terbaik bagi hamba
Tempat di mana hamba bisa menjadi cemerlang
Tempat di mana hamba bisa menjadi salah satu yang terbaik
Tunjukanlah hamba jalanMu Ya Allah
Jalan yang baik yang engkau ridhai
Jalan yang menghebatkan hamba kelak
Berikanlah hamba tempat di mana hamba bisa menemukan diri hamba
Berikanlah tempat di mana hamba bisa hidup sepenuhnya
Tempat di mana hamba bisa mencintai diri hamba sepenuhnya
Tempat di mana hamba bisa mengeluarkan potensi terbaik dalam diri hamba
Tempat di mana hamba bisa mencintai pekerjaan-pekerjaan hamba
Tempat di mana hamba akan berada, sampai hamba tua kelak.
Posted by setiawan at 1:17 PM 0 comments
Labels: Aku
Hujan
Saturday, January 30, 2010Kadang saya ingin agar setiap hari selalu hujan. Agar semuanya terasa segar dan rileks. Tapi bagaimana dengan jemuran-jemuran kta? Bagaimana dengan para petani di sana? Mereka sangat menunggu sinar matahari untuk menyinari tanaman mereka. Mereka butuh kehangatan matahari untuk kesuburan tanamannya. Bagaimana dengan tukang es di jalan? Mereka bisa-bisa bangkrut karena semua orang butuh minuman hangat sewaktu hujan.
Hujan selalu membuat saya merasa damai. Sebagian bahkan sampai tertidur (saking damainya). Sedangkan panas matahari di siang hari, tidak pernah membuat saya merasa lebih baik. Tapi bagaimanapun saya sada sepenuhnya, bahwa mereka, baik hujan dan matahari, selalu ada untuk yang terbaik. Saya selalu berusaha untuk mensyukuri kehadiran keduanya. Baik ketika saya basah kuyup karena kehujanan, ataupun basah kuyup bermandikan keringat sewaktu panas menyengat.
Seringkali kita protes terhadap Tuhan, manakala kita selalu diberikan hujan. Hujan jadi sering dianggap sial. Hujan itu penyebab banjir, dan orang-orang yang harus menderita akibat hujan, sangat membenci kehadiran hujan. Rumah saya juga kebanjiran sewaktu hujan deras. Jika dahulu saya biasa tenang menghadapi hujan, jika dahulu saya begitu menikmati setiap tetes hujan, maka di rumah saya sekarang, kami sekeluarga harus was-was karena hujan. Sewaktu-waktu hujan bisa jadi sangat deras. Sewaktu-waktu, rumah kami bisa kebanjiran. Walaupun demikian, saya masih tetap senang dengan datangnya hujan. Saya masih senang mendengar rintik hujan di genteng rumah.
Di lain waktu seringkali juga kita protes jika hujan tidak kunjung turun. Pana begitu menyengat. Cuaca begitu tidak bersahabat. Semua terasa panas. Tensi darah terasa naik. Emosi jadi labil dan sangat tidak nyaman. Mudah-mudahan saya selalu berusaha untuk menikmati di kala hujan ataupun cuaca panas. Saya ingin menyukuri bahwa keduanya haru datang silih berganti. Walaupun saya menikmati hujan, tidak berarti saya harus prote karena cuaca panas, dan mudah-mudahan anda juga begitu. Hanya karena hujan terlalu sering, mudah-mudahan tidak membuat kita protes pada Tuhan. Karena jika kita melakukannya. Nikmat apa lagi yang akan kita pungkiri?
Posted by setiawan at 9:05 AM 0 comments
Labels: Aku
Hidup Sepenuhnya
Konon, kita akan menjadi besar dengan melakukan yang kita cintai. Konon Kita tidak mungkin menjadi yang terbaik dengan mengerjakan sesuatu yang tidak betul-betul kita inginkan. Konon, kita tidak akan pernah mencapai tempat yang ingin kita tuju, jika saat ini kita masih berada di tempat yang sebetulnya tidak ingin kita berada.
Suatu saat saya akan mati seperti yang lain. Dan sampai detik ini, saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Apa yang sudah saya lakukan untuk dunia?. Saya ingin sekali memberi arti sebelum saya mati. Saya ingin sekali menjadi sesuatu bagi orang lain. Menjadi sesuatu bagi dunia, bagi sesama. Saya tidak ingin membuang banyak waktu dalam hidup saya, dan berkutat dengan hal-hal yang tidak saya cintai. Saya ingin menghabiskan sisa waktu hidup saya dengan penuh suka cita. Saya ingin menjadi tua dengan apa yang saya cintai.
Jika saya memilih menjadi tua, maka saya ingin menjadi ciputra. Jika saya memilih menjadi tua, saya ingin menjadi Kolonel Sanders. Mereka menghabiskan sisa tuanya dengan sangat produktif. Memberi arti bagi sesama. Memberi arti bagi dunia.
Kapan saya bisa seperti mereka? Terkadang mengurusi hal-hal sepele pun saya masih banyak salah. kapan saya akan naik peringkat? Kapan saya akan memikirkan nasib orang lain. Kapan saya akan memikirkan perut orang lain. Kapan saya akan memikirkan masa depan orang lain. Kapan?, jika sekarang, saya masih duduk di sini. Memikirkan rasa takut akan masa depan.
Posted by setiawan at 8:33 AM 0 comments
Labels: Aku
Jika Ingin Berbahagia, maka Berbahagialah...
Tuesday, January 19, 2010Itu adalah salah satu petuah bijak dari seorang besar dunia. Saya mungkin seperti orang kebanyakan yang akan langsung bertanya, “bagaimana caranya?”. Iya saya tahu bahwa kita harus bahagia, namun bagaimana caranya?. Masa sih mau bahagia, ya bahagia begitu saja. Ah…rasanya sulit sekali mencerna kata-kata bijak tersebut. Mungkin kalau kata-katanya: “Jika ingin berbahagia, maka carilah banyak harta…” itu lebih spesifik dan mudah dimengerti.
Saya juga pernah mendengar nasihat bijak dari seseorang (saya lupa, apakah ini saya dapat dari kehidupan nyata saya, ataukah dari film yang saya tonton). Namun kurang lebih begini kata-katanya: “Sedih dan bahagia itu hanyalah soal fokus. Hanya soal bagaimana kita menempatkan fokus pikiran kita kepada yang membahagiakan. Jika kita hanya berfokus pada hal-hal yang membuat kita sedih, membuat kita marah dan kesal, maka itulah yang akan terjadi pada kita”. Namun sebaliknya, jika kita mulai membiasakan untuk lebih berfokus pada yang pada yang dapat membuat kita bahagia, maka itu akan membahagiakan.
Anda pernah dengar kan kata-kata, “Obat yang paling manjur di dunia adalah tertawa”. Para ahli kedokteran bahkan secara terang-terangan mengakui, bahwa sebagian besar penyakit yang dialami seorang pasien adalah lebih disebabkan karena luka batinnya. Sedih, takut, marah, kecewa, akan menghasilkan depresi. Depresi akan meningkatkan resiko bagi datangnya berbagai penyakit.
Jadi, kenapa kita sekarang masih senang sekali untuk bersedih-sedih? Bagaimana kalau mulai dari sekarang kita coba untuk melihat di sekeliling kita tentang semua yang bisa membahagiakan kita. Bahwa kita masih punya pekerjaan sedangkan yang lain masih banyak yang menganggur, atau kita masih bisa bekerja, membangun usaha, sedangkan yang lain mungkin mengurus dirinya sendiri saja sulit. Bahagialah karena Tuhan masih memberikan kita kesempurnaan fisik untuk bekerja sementara banyak orang di luar sana harus hidup dalam penuh ketidaksempurnaan fisik. Bahagialah bahwa saat ini kita memiliki tempat berteduh, kita masih bisa terlindung dari hujan dan panas, dan masih bisa beristirahat jika malam tiba, sementara banyak orang di luar sana yang harus hidup beratapkan langit.
Berbahagialah karena kita masih mempunyai pikiran yang sehat. Banyak hal yang masih bisa kita rencanakan. Banyak yang masih harus kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita. Berbahagialah kita masih diberi kesehatan akal dan mental sementara banyak orang di luar sana harus termenung sedih meratapi saudaranya, keluarganya dan bahkan sekedar orang yang dikenalnya, yang harus mengalami kekurangan secara akal dan mental. Dan bahkan masih ada seribu satu alasan untuk orang-orang yang kurang beruntung tersebut, untuk dapat menyebut dirinya “orang beruntung”.
Di atas langit masih ada langit. Di atas orang yang pintar, masih ada banyak orang yang pintar. Di atas orang besar, masih ada banyak orang besar, di atas orang yang bahagia masih banyak orang bahagia, dan begitupun dengan yang kekurangan dan yang menderita. Sehebat dan senikmat apapun Anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita, masih ada seribu satu alasan untuk mengingkarinya. Masih ada seribu satu alasan untuk kita memilih menjadi orang yang selalu merasa kurang dan menderita, dan begitu pun sebaliknya. Masih ada seribu satu alasan bagi mereka yang selama ini dianggap kurang, kecil dan terbuang, untuk bisa menyebut dirinya “si paling beruntung”.
Mereka yang selalu kita anggap penuh kesulitan hidup, namun masih mempunyai banyak senyum untuk dibagikan kepada orang lain di sekitarnya. Ada seribu satu alasan bagi mereka untuk selalu tersenyum bahagia, ada seribu satu alasan bagi mereka untuk mensyukuri hidup ini. Bagaimana menurut anda? Apa mungkin mereka sudah gila? Atau justru kita yang gila? Atau…semua ini Cuma masalah fokus. Fokus kepada yang membahagiakan, fokus kepada yang membuat kita merasa senang.
Posted by setiawan at 12:20 PM 0 comments
Labels: Motivasi
Menemukan sumber ketakutan kita
Sunday, December 27, 2009Saya lupa darimana saya mendapatkan kata-kata di atas (jika anda tahu, tolong beritahu), mungkin dari seorang psikolog, seorang pembicara hebat, seorang motivator, politisi, artis atau siapalah…. namun bagaimanapun pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa memang kita akan sulit untuk benar-benar menjadi berani tanpa benar-benar tahu apa yang menjadi sumber ketakutan kita.
Saya, sebagaimana juga anda, sebagaimana manusia biasa, kita semua pernah merasa takut. Sebagian orang bahkan lebih sering takut ketimbang bersikap berani. Kita semua, sebagaimana juga orang lainnya, sangat sadar-sepenuhnya-bahwa menjadi berani adalah penting. “Kita harus berani”, itulah kata yang sudah sangat sering coba ditanamkan ke dalam pikiran kita. Entah berapa banyak kita sudah memasukkan sugesti semacam itu untuk diri kita. Entah sugesti yang secara sadar kita lakukan sendiri maupun sugesti yang coba ditanamkan orang lain kepada kita. Intinya tetap sama, bahwa menjadi berani itu penting.
Pertanyaannya kemudian, sampai berapa lama kita bisa menjadi (lebih) berani?. Sampai berapa lama kita harus memasukkan sugesti itu semacam di atas, kepada kita?. Apa lagi yang kita butuhkan? Berapa orang yang mesti mensugesti kita agar kita kita bisa (lebih) berani?. Pengalaman seperti apa yang harus anda alami agar merasa lebih baik-agar merasa (lebih) berani?.
Konon, kebencian bisa member kita kekuatan (keberanian), konon penderitaan bisa member kita kekuatan. Lantas, penderitaan semacam apa yang harus kita temui untuk bisa (lebih) berani?. Apa lantas semua itu lalu bisa memberi kita perasaan yang lebih baik?
Seorang motivator pernah bilang, bahwa untuk menjadi berani, maka jangan takut (beranilah), untuk menjadi rajin, maka rajinlah (jangan malas), dan untuk menjadi bahagia, berbahagialah (jangan sedih). Lantas untuk menjadi “beranilah” itu bagaimana?, mungkin ini salah satu dari sekian banyak pendekatan untuk menjadi (lebih) berani. Temukanlah sumber ketakutan anda.
Jika anda takut pada ular, atau binatang buas lainnya itu adalah hal yang normal (lumrah), tentunya bukan ketakutan semcam itu yang kita bicarakan di sini. Adalah normal untk merasa takut kepada yang bisa menyakiti kita, bisa membahayakan kita, yang mengancam jiwa kita, yang bisa membuat kita terluka (secara fisik), dsb. Namun sayangnya ketakutan semacam itu bukan satu-satunya ketakutan kita.
Kita seringkali takut untuk sesuatu yang mungkin bagi orang lain, hal itu merupakan ketakutan yang menggelikan. Kadang kita takut untuk mencoba hal-hal baru dalam hidup, kita takut untuk mengambil keputusan, kita takut untuk berkenalan dengan orang-orang baru, takut untuk bertemu banyak orang, takut berbicara di depan banyak orang, dan lain sebagainya.
Tentunya anda yang paling tau diri anda, anda yang paling mengerti tentang masalah anda. Karena ketakutan itu ada dalam diri anda, maka hanya diri anda yang dapat menolong diri anda sendiri. Tentu kita tidak dapat membicarakan satu-persatu bagaimana kita bisa lepas dari jerat ketakutan, dan membuka diri untuk menjadi lebih berani di sini. Tapi mulailah saat ini anda benar-benar merenungkan tentang perasaan anda itu.
Misalnya, kenapa kita takut bertemu orang? Apa kita berbuat salah pada dia atau keluarganya? Apa pernah kita menyakitinya? Apakah kita seorang kriminal yang sedang dicari-cari ?. Apa ada yang salah dalam diri kita? Apa kita merasa malu dengan keadaan diri kita? Fisik kita? Atau ada kekurangan dalam diri kita? Apa menurut anda orang yang anda hadapi saat itu akan menjatuhkan anda dengan kekurangan itu? jika tidak, lantas apa yang anda takutkan? Dan jika iya, maka di mana letak kesalahannya? Apakah memang sudah sepantasnya anda diperlakukan tidak adil seperti itu (anda di hina, anda dilecehkan)? Atau apakah memang anda sebaiknya tidak dekat-dekat dengan orang semacam itu, karena ia adalah “racun” yang harus dienyahkan?. Apakah itu yang anda takutkan? Anda takut dipermalukan? Anda takut disakit secara psikologis?. Atau apa semua di atas itu salah? Lantas, apa yang benar?. Andaa akan selangkah lebih dekat dengan keberanian, begitu anda tau dengan pasti tentang apa yang sebenarnya anda takutkan.
Posted by setiawan at 6:57 AM 2 comments
Labels: Motivasi
BERFIKIR DUA KALI (untuk membuang sampah sembarangan)
Monday, December 21, 2009Selagi menikmati permen, saya pegang bungkus permen, sedikit celingak-celinguk, mencari tempat di mana kira-kira saya bisa buang sampah bungkus permen itu. Tetapi, karena tidak ada tempat yang cocok, saya buang bungkus permen itu di begitu saja di sana, di alam yang seharusnya kami rawat dan pelihara, seperti semboyan kelompok pecinta alam kami.
Saya berpikir mungkin bukan hal yang bermasalah untuk hanya membuang sampah bungkus permen, toh, hanya bungkus permen, satu bungkus permen kecil. “Ah….alam ini terlalu luas untuk hanya sebungkus pemen..” Saya tidak menyadari bahwa seorang teman melihat perbuatan saya itu.
Saya kaget karena ternyata teman saya ternyata tidak main-main. Ia tidak main-main dengan jargon “menjaga kelestarian alam” yang selalu didengungkan oleh kelompok pecinta alam kami. Ia tidak main-main ketika dulu mengajari kami untuk menjadi pecinta alam sejati. Seorang petualang alam yang tidak boleh meninggalkan apapun di alam kecuali jejak. Bukan petualang kebanyakan. Petualang yang hanya bersenang-senang di alam dan meninggalkan banyak “kenangan” di alam. Kenangan berupa sampah dan botol minuman, dan bahkan tulisan-tulisan di alam sekitar. Tulisan-tulisan yang ingin sekali menegaskan tentang keberadaan mereka di sana, bak prasasti Raja-raja jaman dahulu.
Teman saya masih memegang teguh prinsip itu, bahkan di saat acara jalan-jalan santai seperti yang kami lakukan. “Jadi, itu semua bukan jargon doang ya…”, kira-kira begitu mungkin saya bergumam dalam hati. Sejujurnya saya malu pada saat itu, malu karena ternyata saya belum menjadi seperti apa yang pernah diajarkannya kepada saya. “Ah….kemana saja otak saya, sampai-sampai tidak terpikir untuk sementara membuang sampah itu di kantong…”.
Sejak kejadian itu, saya sedikit tersadar. Penting sekali untuk benar-benar konsisten. Penting sekali untuk bersikap peduli, benar-benar peduli lingkungan. Penting sekali untuk tidak menjadi orang kebanyakan. Bahkan untuk hal-hal yang (tampak) kecil dan sederhana seperti ini, bungkus pemen.
Mulai hari itu saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa saya akan lebih memperhatikan hal-hal seperti itu (sampah). Saya berjanji untuk lebih peduli dan berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan. Jika pada akhirnya saya harus membuang sampah, paling tidak saya sudah berpikir dua kali. Saya pikir itu cukup baik, toh semua orang butuh proses untuk menjadi lebih baik…
Mungkin saya belum benar-benar seorang pecinta alam sejati, seorang yang benar-benar konsisten menjaga alam dan tidak mengotorinya. Terkadang saya masih juga bandel membuang sampah dengan berbagai alasan; tidak ada kantong, tidak bawa tas, tidak ada satupun tempat di pakaian yang melekat di badan, untuk dapat dijadikan TPS (Tempat Pembuangan Sementara), ataupun karena tepat di depan mata saya; di stasiun kereta, terminal bis, pasar-pasar, jalan umum dll, sudah terdapat gundukan sampah yang menjulang tinggi.”Ya…elah…gue repot-repot mikirin tempat sampah, eh nih orang-orang pada seenak udel aja buang sampah sembarangan...Ya Allah..karena aku nggak ada tempat lagi, aku mohon ijin untuk membuang di sini ya..” begitu kira-kira pintaku dalam hati.
Saya sadar saya salah. Seandainya semua orang imannya selemah itu, gundukan sampah itu bukannya makin berkurang, malah bakal semakin tinggi. Saya sadar saya salah dan saya merasa menyesal. “Tapi, toh saya sudah berpikir dua kali untuk tidak membuang sampah sembarangan”, begitu kira-kira ego saya membela diri. Saya harap saya akan lebih kuat di kemudian hari, kuat untuk tidak membuang sampah sembarangan, kuat untuk tidak menjadi orang kebanyakan.
Saya berharap bahwa di hari selanjutnya saya bisa berfikir tiga kali untuk membuang sampah sembarangan, di hari esoknya empat kali, besoknya lagi lima dan begitu seterusnya hingga 1000 kali. Entah berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk berfikir mencari alasan ke 1001-nya. Pada saat itu, mungkin saya akan benar-benar begitu tertekan dan berfikir akan lebih baik jika saya masukkan saja sampah itu ke mulut saya.
Saya berharap begitu, saya berharap bahwa saya harus lebih baik. Lebih baik tertekan dan merasa bersalah karena tidak melakukan hal yang benar ketimbang berkubang dalam salah dan dosa tanpa perasaan apapun. Membuang sampah sembarangan adalah salah dan sudah seharusnya merasa bersalah.
Saya tidak menghitung, sampai hari ini berapa kali saya harus berfikir untuk tidak membuang sampah sembarangan, tapi paling tidak saya sudah pernah berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan. Saya pikir itu cukup adil, Toh semua orang butuh waktu untuk berubah…
Menurut saya berfikir dua kali untuk tidak membuang sampah sembarangan sudah lebih baik, paling tidak kita sudah sedikit berbeda, paling tidak kita tidak seperti kebanyakan orang. “Ah…memang tidak mudah menjadi pecinta alam sejati…”. Bagaimanapun saya bersyukur pernah dididik nilai-nilai “sederhana” ini. Saya bersyukur bahwa saya ada di antara mereka yang memiliki nilai lebih, mereka yang memiliki pandangan (baik) yang berbeda, yang tidak seperti kebanyakan orang.
Kalau ditanyakan, apa salah satu perbedaan antara seorang pecinta alam dan yang bukan, saya akan menjawab sederhana. “Paling tidak, seorang pecinta alam akan berfikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan”, saya pikir itu cukup adil, toh pecinta alam juga manusia, kita butuh waktu untuk berubah…(lebih baik).
Posted by setiawan at 8:13 AM 0 comments
Labels: perenungan
Belajar dari seorang supir
Thursday, December 10, 2009Dia menggunakan alat komunikasi (hp) untuk menghubungi beberapa orang yang sepertinya terkait dengan masalah bisnis. ya, ini yang saya suka dari orang-orang macam ini. meskipun dia seorang supir, dia berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan. saya sangat mengapresiasi itu. namun, di sini saya tidak ingin membicarakan hal tersebut.
Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya terkesan dengan supir yang satu ini, yaitu cara dia untuk tetap dekat dengan keluarganya. Sepanjang kurang lebih 3 jam perjalanan, mungkin dia telah lebih dari 2 (dua) kali menelpon anak dan istrinya. menanyakan kabar, menanyakan tentang aktifitas yang sedang mereka lakukan, menanyakan apa mereka sudah makan atau belum.
Terus terang, mungkin bagi sebagian orang hal tersebut sama sekali tidak menarik. mereka yang memandang tidak menarik bisa karena berbagai alasan. yang pertama, bisa saja mereka beranggapan bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat lumrah dan biasa mereka lakukan, sehingga tidak ada yang istimewa untuk dipuji dan diapresiasi atau kemungkinan lain adalah bahwa tindakan supir tersebut benar-benar "tidak masuk hitungan" untuk diapresiasi, bukan karena mereka biasa memperlakukan keluarga mereka demikian, namun karena mereka justru tidak pernah memperlakukan mereka demikian.
Orang-orang tipe kedua ini sebetulnya sudah terbiasa atau mungkin sudah membiasakan diri untuk bersikap tidak ambil bagian dari kehidupan keluarga. mereka, orang-orang ini bisa juga kita sebut orang yang cuek terhadap keluarganya. mereka tidak tertarik untuk menghubungi kelauara mereka. Mungkin bagi mereka menanyakan kabar, menanyakan apakah anak-anak dan istri mereka sudah makan atau belum adalah suatu yang basa-basi dan membuang-buang waktu.
Saya tidak ingin menghakimi siapapun. saya hanya ingin belajar dari supir ini. saya belajar banyak hari ini. belajar dari seorang supir, tentang bagaimana membina hubungan keluarga yang baik. Saya mungkin tidak betul-betul mengenal baik si supir ini. Yang saya tau adalah bahwa dia sudah menunjukkan kasih sayangnya terhadap keluarganya.
Saya ingin belajar dari supir ini. saya ingin, ketika saya membina hubungan keluarga kelak, saya berjanji untuk melakukan hal yang sama terhadap istri dan anak saya. Sesibuk apapun saya, saya ingin sekali berjanji bahwa saya akan menanyakan kabar keluarga saya tercinta. Saya ingin berjanji untuk melakukan itu. Saya berharap saya tidak mengingkari janji saya ini. Saya berharap saya tidak cukup kaku menghadapi rumah tangga saya kelak.
Saya tidak ingin melangkan salah. Saya sadar kekurangan diri saya. Saya orang yang kaku dan membosankan. Saya serius dan sulit untuk bersantai. Saya tidak ingin berasalan dengan sikap saya itu. Saya tidak ingin kompromi. Mungkin sulit bagi orang-orang seperti saya untuk bisa mengekspresikan perasaan/kasih sayang. Saya yakin saya bukan satu-satunya. Ada banyak orang di luar sana yang senasib dengan saya. mereka yang benar-benar sadar pentingnya hubungan baik dan kasih sayang, tetapi tidak pernah dapat menunjukkan ekspresinya.
Saya tidak mau mencari kambing hitam, saya tidak mau mencari-cari alasan untuk tidak seperti si supir. Saya harus sangat mudah untuk tersenyum, tertawa dan bercanda dengan keluarga saya kelak. Saya bangga dengan seorang ayah dan suami yang humoris, yang tidak hanya memberikan ketentraman bagi keluarganya, tetapi juga kehangatan dalam rumah tangga. Saya harus bisa melakukan semua itu. Saya harus belajar dari supir itu dan saya harus lebih berhasil darinya.
Posted by setiawan at 11:30 AM 0 comments
Labels: Keluarga
Ilmu atau harta ?
Sunday, November 29, 2009Posted by setiawan at 7:48 AM 0 comments
Labels: perenungan
Di mana Kebahagiaan itu ada?
Saya juga pernah mendengar, ada sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa "bahagia itu ada dalam jiwa yang bersyukur". Lagi-lagi rasanya tidak asing kita mendengar kata-kata tersebut. tapi mungkin kita harus jujur untuk mengakui bahwa kita jarang benar-benar mendalami maknanya. kita tau dan pernah mendengar, bahkan mungkin juga pernah merenunginya. Kita tahu apa maksudnya, tapi seringkali kita lalai. seakan tidak tau atau tidak pernah mau tau.
Pepatah bijak yang kedua tersebut di atas, tentunya mengajarkan/menasehatkan pada kita bahwa kita akan bahagia begitu jika kita punya rasa syukur. rasa syukur itu ada dalam hati/ dalam jiwa. Ketika kita mensyukuri apa yang telah kita dapatkan, apa yang telah kita capai. Karena pada dasarnya setiap yang kita peroleh adalah pemberian Tuhan.
Dalam kepercayaan saya (islam), Tuhan (Allah SWT) berfirman yang pada prinsipnya mengatakan bahwa Dia (Allah) akan menambahkan nikmat (karunia) bagi siapa yang bersyukur kepada nikmatNya dan akan mengazab mereka yang kufur (tidak bersyukur). Oleh karena itu, tepat rasa-rasanya jika kita selalu bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan, karena pada hakikatnya hidup yang penuh rasa kesyukuran akan memungkinkan kita mendapatkan yang lebih pada akhirnya nanti, dan demikian pula sebaliknya.
Mereka yang selalu merasa kurang akan selalu miskin, tidak peduli seberapa banyak yang telah mereka dapatkan, karena pada dasarnya mereka selalu mengingkari apa yang pernah mereka dapatkan. mungkin itu sebabnya para koruptor, para pemuja kekuasaan selalu haus akan apa yang mereka ingin capai. Seberapa banyak dan seberapa besar yang telah mereka peroleh, mereka akan terus memburu dan memburu. Tentu tidak ada yang salah dengan ambisi, hanya saja ketika cara yang mereka gunakan tidak benar dan tidak ada rasa kesyukuran di dalam hati mereka, itulah saat kehancurannya.
Posted by setiawan at 7:15 AM 0 comments
Labels: Motivasi
Aku (Allah SWT) adalah seperti apa yang Hambaku persangkakan
Seingat saya, dalam agama yang saya anut (islam), Allah berfirman yang pada intinya adalah bahwa Ia adalah seperti yang hambaNya persangkakan. Oleh karena itu, jika kita selalu berkeyakinan (berprasangka) bahwa Ia Maha Adil dan tidak mungkin tidak adil, maka begitulah Dia. Dan sebaliknya, jikalaupun kita berprasangka yang sebaliknya, maka Dia pun seperti yang kita prasangkakan. Jadi Allah (Tuhan) itu adil, Tuhan Maha Bijak, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pemberi Rizki ataupun bisa sebaliknya, Dia Jahat, Tuhan yang pelit, Dia ingin kita susah, Dia bisa salah, Dia Suka peperangan/kekerasan,maka semua itu bisa saja benar. Dan tentunya kita tahu tergantung apa Allah itu.
Posted by setiawan at 5:06 AM 0 comments
Labels: Ketuhanan
