Jasa Pasang Iklan Google Adwords

Thursday, January 1, 2015

Halo, Di sini saya pengen nawarin jasa pasang iklan google Adwords. saya yakin kalian pasti udah pada tau iklan google. buat yang belom tau, liat tampilan di bawah ini:
mau jelasin dikit: Keyword Iklan : silahkan kalian mau pake keyword apa. keyword itu maksudnya, kalian pengennya iklan kalian muncul pas orang ngetik apa di google ?. contoh kalian jual celana jeans. kalian mungkin pengen waktu orang ngetik ini di google : jual jeans bagus jual jeans murah jeans trendy jeans ukuran besar jeans model terbaru jual jeans branded kolor warna hitam dsb… silahkan kalian buat keyword semau kalian (bandingin sama jasa laen yg ngebatesin keyword). catatan: setelah iklan terpasang (tentunya kalo disetujui google)- bukan berarti iklan kalian pasti muncul lho ya… ada bbp alasan iklan kalian nggak muncul waktu keyword diketik di google. keyword kalian nggak cukup buat nampilin iklan. inget. google masang iklan nggak sembarangan. relevansi kata kunci sama web pasti diperhatiin. kalo kalian milih keyword yang sebetulnya gak relevan ama iklan ato isi web, google mungkin nampilin iklan kalian, tapi nggak di halaman 1. pesaing kalian juga pake keyword yang sama & dipandang google lebih layak tampil di halaman 1. ada bbp alasan knapa google lbih nampilin iklan pesaing kalian daripada iklan kalian. misal, karena pesaing kalian nawar keyword dengan harga lebih tinggi dari kalian. oh ya, tolong dicatet ya. google pake sistem bid (tawaran). intinya sebetulnya, semakin besar kalian nawar kata kunci, semakin tinggi peluang itu tampil paling tinggi di peringkat iklan google. peringkat google udah saya tampilin di atas ya. peringkat paling tinggi adalah peringkat 1. halaman 1, tingkat paling atas, kedua dst kyak yg udah saya tandain. Jangan khawatir juga bhw kalo kalian nawar dikit, iklan kalian gak keluar-belom tentu juga. adakalanya iklan kalian muncul, tapi mungkin di halaman 1 google tapi peringkat kesekian (misal 5 atau peringkat 6 dst). sebetulnya iklan kalian mungkin muncul, cuma nggak di halaman 1. itulah kenapa biasanay google menyarankan utk naikin tawaran keyword kalo dirasa keyword kalian gak di halaman 1. faktor lainnya yg menentukan adalah anggaran harian. kalian bebas nentuin berapa anggaran harian utk iklan kalian. tapi, adakalanya, google menyarankan supaya budget/anggaran iklan ditingkatkan supaya maksimalin iklan. untuk Judul iklan dan deskripsi iklan udah ngeti lah ya..intinya pilih judul iklan yg pengen etne tampilin di iklan. deskripsi itu juga sam. sedikit tentang deskrispi, sengaja saya kasih 2 contoh di atas. deskripsi mungkin ditampiin agak beda. ada yg tampil panjang ada yg tampil pendek. itu semua kebijakan google. utk nyesuain ukuran iklan kalian. saya pengen orang-orang juga bisa ngerasain produknya bisa tampil di halaman 1 google. Mungkin banyak dari kalian yang ngerasa masih takut2 atau ragu2 untuk pasang iklan di google. Mulai dari takut bakal nguras kantong, sampe males/ribet ngurus2 pendaftarannya. males ngurus2 kartu kredit & semua tetek bengeknya. saya bilang bgini krn saya dulu jg begitu. Yang pertama saya pikirin waktu itu, gimana cara pasangnya, gimana cara bayarnya. Begitu nyinggung2 kartu kredit, saya males juga. takut kebobolan,kekuras/nggak terkontrol de el el. Nah, di sini saya cuma mau ngejembatanin alasan2 di atas. Waktu pertama kali mau nyoba iklan adwords, saya juga nyari jasa sejenis. dulu belom sebanyak sekarang. cuma beberapa. Sayangnya, dari yang cuma beberapa itu, saya justru milih pilihan yg akhirnya buat saya males pake jasa orang. Mulai deh, terpaksa saya beraniin buat ngurus2 registrasinya dsb, sampe soal deposit, transfer pembayaran & terus utak atik iklan sampe skrg. Bbp hal yang buat saya males pake jasa orang waktu itu, krn budget saya emang terbilang kebates (sebetulnya lebih tepatnya, saya perketat” budgetnya). Mungkin si penyedia jasa rada males, jadi deh yg saya tangkep kyaknya beliau “rada2 ilfil” ngelayani saya. hehehe… Namanya juga pemula ya? Mungkin kita samalah...yang ada di pikiran kita kan pastinya, gimana cara iklan di google dgn budget yang semurah2nya tapi bisa dapet banyak pengunjung yg ujung2nya beli produk kita. Jadilah itu orang ogah2an… Nah, di sini saya nggak bilang bhw kalo kalian pake jasa saya, kalian cuma perlu bayar murah & bakal banyak penjualan. Di sini sayacuma nawarin supaya kalian bisa ngiklan di google (kayak contoh di atas). nggak jamin laku atau nggak laku. Di sini, kalian gak usah takut utk mulai ngiklan dgn budget berapa aja. Penawaran saya ini khusus untuk kalian yang budget iklannya di bawah Rp. 500.000,- kalian bisa bandingin ama jasa sejenis yg nyaratin nominal tertentu buat ngiklan. Misi saya simple aja. Supaya kalian yg ngerasa nasibnya sama ama saya dulu, bisa ngerasain gimana produk/iklannya tampil di google (adwords) tanpa banyak mikir soal budget iklan. Untuk biaya, to the point juga- saya cuma minta Rp. 15.000,- / iklannya. Silahkan bandingkan ama jasa sejenis. ada yang ngambil dalam bentuk persentase. dll. Kalo ada yg lebih murah. Nanti kita omongin lagi. untuk tambah deposit/budget, saya cuma minta Rp. 5.000,- kalo ada yg nawarin lebih murah dari itu, silahkan kita omongin lagi nanti. Untuk pasang iklan di google, simple aja. perhatiin thread yang saya kasih di atas. Yang perlu kalian lakuin cuma ini: Tulis Judul Yang kalian Pengenin : (maksimal 25 karakter) Tulis Deskripsi 1 Yang kalian Pengen : (maksimal 35 karakter) Tulis Deskripsi 2 Yang kalian Pengen : (maksimal 35 Karakter) tulis url web kalian yang pengen ditampilin : (maksimal 35 karakter) tulis url website kalian yang, seandainya iklan kalian diklik orang, dia akan liat tampilan web kalian yang itu Untuk No. 1-4 kalian tinggal liat contoh di atas. untuk no. 5 begini: misal kalian punya web : www.webkaliansendiri.com dari web itu, kalian pengen supaya kalo orang nge-klik iklan itu, halaman pertama yang mereka liat adalalh halaman penawaran kalian. misalnya alamatnya di : www.webkaliansendiri.com/produk-produk-keren-saya Oh ya. saya mohon maaf sebelumnya. saya mungkin gak bisa bantu semua yg mau pasang iklan. saya cuma bisa malem aje. jadi sewaktu2 saya mungkin bakal bilang kalo saya belom bisa bantu kalian.

“PUKULAN IBLIS” YANG MEMBERI KEKUATAN

Sunday, March 14, 2010

Salah satu film favorit saya adalah Kung Fu Hustle, dari sisi jalan cerita dan logika, memang ini bukan film serius. Jangan berfikir bahwa kita akan menemukan banyak pemikiran dari film ini. Ini Cuma film hiburan. Benar-benar untuk hiburan. Isinya berupa action, dan lelucon, tapi saya sangat menyukainya.

Walaupun hanya sekedar hiburan, ada satu adegan dalam film ini yang paling sangat saya sukai, yaitu ketika si jagoan (Stephen cow), yang pada awalnya hanyalah seorang pecundang, harus dipukuli bertubi-tubi oleh si musuh sakti “si iblis” dank arena itulah kekuatan dalam diri si jagoan, baru keluar.

Si jagoan ini pada awalnya benar-benar pecundang. Dia mencoba untuk menjadi seorang pahlawan yang ingin membela kaum yang lemah (pada waktu ia kecil), namun ternyata gagal. Begitu seringnya ia mengalami pengalaman pahit dalam hidupnya. Dicemooh, dilukai, dipukuli, dihina sudah jadi langganan bagi dia.

Suatu hari ia berfikir untuk merubah jalan hidupnya. Ia lelah menjadi orang baik. Ia lelah berkeinginan menjadi penolong bagi yang lemah. Selanjutnya ia pun bercita-cita menjadi penjahat. Penjahat yang sangat kejam dan sangat ditakuti. Pilihannya ketika itu jatuh untuk menjadi anggota geng mafia. Seorang anggota geng mafia yang kejam.

Berkali-kali ia berusaha untuk menjadi salah seorang geng mafia, ia pun gagal. Sampai akhirnya takdir mempertemukan dia lewat kejadian yang unik, dengan seorang bos mafia terkenal di kota itu. Singkat cerita bos mafia memintanya untuk membantunya mencari pendekar jahat yang sangat ia butuhkan jasanya untuk melawan beberapa pendekar putih (baik).

Ketika berhasil pendekar jahat telah ditemukan, maka terjadilah pertarungan sengit antara pendekar baik dan si iblis. Sampai pada pertarungan sengit di mana pendekar-pendekar itu saling unjuk kekuatan dan saling mengunci lawan masing-masing. Pada kesempatan itu si pecundang ini disuruh bos nya (bos mafia) untuk membunuh pendekar baik. Alih-alih membunuh pendekar baik, si pecundang/calon jagoan ini malah memukul si iblis. Si iblis marah besar, menghampiri si pecundang dan memukulnya membabi buta, berkali-kali dan tanpa ampun hingga babak belur, beruntung pendekar baik segera menolong dan membawanya pergi.
Pendekar baik pun berusaha menolong si pecundang karena telah mau menolong mereka, walaupun mereka ragu bahwa ia akan selamat, mengingat pukulan dahsyat dari si iblis. Tapi tahu yang terjadi?? Ternyata setelah dicoba diobati, si pecundang mengalami kondisi yang semakin baik. Pendekar baik agak bingung dan tidak mengira bahwa si pecundang akan selamat. Karena sulit bagi orang biasa untuk bisa lolos dari maut seperti itu.

Pada akhirnya si pendekar baik pun sadar bahwa si pecundang sebetulnya bukanlah orang biasa. Dia (pecundang) adalah orang istimewa. Sangat istimewa. Pendekar baik baru tersadar bahwa si pecundang sebetulnya menyimpan kekuatan dahsyat (aliran chi) di dalam tubuhnya. Begitu tersembunyinya kekuatan chi dalam tubuh si pecundang sampai-sampai Kekuatan itu baru bisa keluar setelah adanya pukulan dahsyat dari si iblis. Dengan kata lain, pukulan si iblis telah membebaskan aliran chi dari si pecundang. Aliran chi inilah yang membedakan antara pendekar kung fu istimewa dengan pendekar kung fu biasa.

Pendekar baik sangat tertegun dan kini baru percaya bahwa seorang pecundang yang baru saja ditolongnya tersebut adalah seorang pendekar kung fu hebat. Pendekar baik itu berkata kepada pasangannya bahwa pendekar ini (si pecundang) adalah salah satu pendekar kung fu terhebat sepanjang masa. Dan ia betul. Singkat cerita si pecundang benar-benar menunjukkan kekuatannya. Ia dengan mudah melawan semua musuh-musuhnya, bahkan si iblis, dengan sangat mudah. Si Pecundang itu menjadi salah satu pendekar terhebat sepanjang masa.
------------------------------------------------the end----------------------------------------
Setiap kali saya merasa terpuruk karena cobaan yang menimpa saya, saya selalu membayangkan cerita ini. Saya membayangkan bahwa saya adalah tokoh dari si pecundang. Pecundang yang kelak menjadi salah seorang pendekar terhebat sepanjang masa.

Setiap kali saya merasa sakit dan rapuh, saya selalu membayangkan bahwa diri saya seperti si pecundang yang sedang dipukuli oleh si iblis (kesakitan, cobaan, kegagalan, kepedihan). Setiap pukulan, setiap cobaan, setiap kesakitan yang saya rasakan, adalah detik-detik menanti kekuatan terdalam dalam diri saya. Kekuatan yang baru akan keluar manakala diri ini dihantam begitu hebatnya oleh “si iblis”.

Saya selalu meyakini bahwa kekuatan ini akan datang, lambat atau cepat. Sampai pada suatu saat aliran kekuatan ini akan muncul tidak terbendung. Membuat saya hebat, menjadi salah seorang “pendekar” terhebat sepanjang masa.


si Cantik di seberang peron

Thursday, February 4, 2010

Seperti hari kemarin, dia duduk di tempat itu. Tempat yang sama seperti hari-hari kemarin. Aku bingung, kenapa dia selalu duduk di sana?. Ada banyak tempat kosong di peron itu, tapi lagi-lagi ia duduk di sana. Dia masih cantik, persis seperti kemarin. Malah, mungkin lebih cantik dari kemarin.

Cahaya lampu peron yang sedikit remang-remang, sedikit menutupi parasnya. Tapi, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Dia cantik. Sorot cahaya lampu seakan menyebarkan pesona kecantikannya.

Selalu di bawah tulisan itu dia duduk. “Stasiun Tebet”. Letaknya hampir persis di tengah-tengah peron. Manis sekali melihatnya duduk di sana. Dan aku cuma bisa memandangnya dari seberang. Ah…kalaupun aku di peron yang sama, aku juga tidak yakin akan menyapanya.

Seperti hari kemarin, dan hari-hari sebelumnya, aku cuma bisa memandangnya dari kejauhan. Dari seberang peron yang berjarak hanya beberapa meter. Hanya berjarak dua rel kereta. Kadang aku berhenti sejenak untuk hanya menatapnya beberapa saat, ah…dia cantik sekali. Manis sekali. Andai saja ada kesempatan mengenalnya lebih dekat.

Kadang, aku berfikir. “Jangan-jangan dia pernah satu gerbong denganku”, ah, tapi enggak mungkinlah. Pasti dia naik dari jalur yang berlawanan dengan aku. Lagipula kalaupun dia satu gerbong denganku, paling-paling aku juga tidak melakukan apa-apa. Paling-paling sama dengan yang kulakukan di seberang sini. Cuma menatapnya dari kejauhan dan cuma bisa bergumam dalam hati, “kamu cantik sekali sih”.

Sesekali aku mengambil tempat tepat di seberangnya. Di seberang peron ini, aku sering berdiri. Menatapnya lama-lama, sambil berpura-pura menantikan kereta datang. Aku berharap ada momen di mana aku bisa menyapanya.

Tiba-tiba aku menghayal, kalau saja dia ada di peron yang sama denganku, dan berdiri persis di sampingku, apa yang kira-kira aku perbuat?. Paling-paling seperti sebelumnya. Cuma diam mematung dan tidak melakukan apa-apa. Paling-paling diam memeluk erat tasku di depan, dan sesekali mencuri pandang. Yang pasti dia harus ada di sebelah samping kiriku. Karena keretaku datang dari arah sana. Namun jika dia di sebelah kananku, tentu saja dengan senang hati aku akan pindah tempat di sebelah kanannya, dan mudah-mudahan tidak ada orang di samping kanannya. Kalaupun ada, aku harap bukan laki-laki. Hahaha…

Ah….itu semua kan cuma seandainya. Toh, dia ada di seberang sana sekarang, sama seperti hari-hari kemarin.

Ngaca dong

Tuesday, February 2, 2010

Katanya mau agar hidup dan segala urusannya dimudahkan oleh Allah, tapi sholatnya aja masih semaunya.
Hampir nggak pernah bisa sholat tepat waktu, terutama subuh
Boro-boro sholat, tau adzan subuh jam berapa aja, nggak (tau).

Mau jadi apa sih?
Ngomong doang
Apa sih yang buat kita berfikir bahwa Allah bakal ndenger do’a kita?

Jutaan ummat manusia, jutaan hambaNya sekarang ini, setiap hari,setiap detik, memohon padaNya
Mereka semua itu berdo’a
Mereka berdo’a juga untuk hal yang sama
Keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup

Terus, apa yang buat kamu berfikir bahwa Allah akan mendengar dan mengabulkan permintaan kamu?
Ibadahnya nggak beres, masih buat maksiat lagi.
Saingamu tuh banyak, tau!
Berkorban dikit dong!

Berapa banyak janji yang udah kamu berikan ama Dia
Janji mana aja yang udah dipenuhi?
Dulu minta supaya dikasih ini, itu
Terus kamu berjanji, kamu akan begini dan begitu, kalau yang ini dan itu terkabul

Coba dong, liat, sekarang yang udah kamu dapet apa?
Nikmat mana lagi sih, yang mau kamu ingkarin?
Ati-ati lho, jangan sampe omonganmu nggak laku lagi
Ati-ati, jangan sampe kamu janji-janji lagi
Do’a tuh pake mulut juga tau!
Ngaca dong!

Do'a

Ya Allah, berikanlah aku kemampuan yang baik dalam mengingat dan memperoleh informasi
Berikanlah aku kemampuan yang baik dalam mencari ilmu pengetahuan
Jadikanlah aku seorang ahli ilmu

Ya Allah, janganlah kau jadikan hamba orang yang kufur akan nikmat-nikmatmu
Jadikanlah hamba menjadi hambamu yang pandai bersyukur
Berikanlah hamba kemudahan dalam menyimpan dan memperoleh ilmu pengetahuan

Ya Allah, berikanlah hamba pintu rizkimu yang baik
Bukakanlah pintu rizkimu selebar-lebarnya bagi hamba ya Allah
Ridhailah hamba dalam mencari rizkimu Ya Allah
Ridhailah hamba dalam menggapai kesejahteraan Ya Allah
Dan janganlah hamba terlena karenanya Ya Alla

Ya Allah, Hamba ingin mensejahterakan diri hamba
Hamba ingin mensejahterakan keluarga hamba
Hamba ingin mensejahterakan orang-orang yang hamba cintai

Ya Allah, begitu banyak yang ingin hamba lakukan di dunia ini ya Allah
Berikanlah hamba kesempatan untuk menjadi salah satu hambaMu yang terbaik
Berikanlah hamba kesempatan, Ya Allah
Hamba ingin menjadi seseorang di dunia ini
Seseorang yang mempunyai arti

Usia hamba yang terus beranjak tua, Ya Allah
Dan hamba belum melakukan apapun, dan untuk siapapun.

Ya Allah, hamba tahu bahwa kau sayang terhadap hamba
Hamba tahu bahwa kau inginkan yang terbaik bagi hamba
Kau tidak mungkin membawa hamba sejauh ini hanya untuk menjadi bukan apa-apa.

Ya Allah, berikanlah hamba tempat yang terbaik bagi hamba
Tempat di mana hamba bisa menjadi cemerlang
Tempat di mana hamba bisa menjadi salah satu yang terbaik

Tunjukanlah hamba jalanMu Ya Allah
Jalan yang baik yang engkau ridhai
Jalan yang menghebatkan hamba kelak

Berikanlah hamba tempat di mana hamba bisa menemukan diri hamba
Berikanlah tempat di mana hamba bisa hidup sepenuhnya
Tempat di mana hamba bisa mencintai diri hamba sepenuhnya
Tempat di mana hamba bisa mengeluarkan potensi terbaik dalam diri hamba
Tempat di mana hamba bisa mencintai pekerjaan-pekerjaan hamba
Tempat di mana hamba akan berada, sampai hamba tua kelak.

Hujan

Saturday, January 30, 2010

Hujan. Hari ini hujan. Saya selalu suka jika hari hujan. Buat saya hujan itu identik dengan kesejukan. Hujan itu identik dengan kedamaian. Hujan itu identik dengan rasa tenang dan relaks. Hidup di perkotaan yang padat, membuat semuanya terasa gersang. Polusi yang merajalela membuat keadaan semakin panas. Tapi begitu kota diguyur hujan, semuanya seperti tampak damai. Orang-orang yang biasanya ganas, sangar dan berbicara keras, seakan juga ikut dalam kesyahduan hujan.

Kadang saya ingin agar setiap hari selalu hujan. Agar semuanya terasa segar dan rileks. Tapi bagaimana dengan jemuran-jemuran kta? Bagaimana dengan para petani di sana? Mereka sangat menunggu sinar matahari untuk menyinari tanaman mereka. Mereka butuh kehangatan matahari untuk kesuburan tanamannya. Bagaimana dengan tukang es di jalan? Mereka bisa-bisa bangkrut karena semua orang butuh minuman hangat sewaktu hujan.

Hujan selalu membuat saya merasa damai. Sebagian bahkan sampai tertidur (saking damainya). Sedangkan panas matahari di siang hari, tidak pernah membuat saya merasa lebih baik. Tapi bagaimanapun saya sada sepenuhnya, bahwa mereka, baik hujan dan matahari, selalu ada untuk yang terbaik. Saya selalu berusaha untuk mensyukuri kehadiran keduanya. Baik ketika saya basah kuyup karena kehujanan, ataupun basah kuyup bermandikan keringat sewaktu panas menyengat.

Seringkali kita protes terhadap Tuhan, manakala kita selalu diberikan hujan. Hujan jadi sering dianggap sial. Hujan itu penyebab banjir, dan orang-orang yang harus menderita akibat hujan, sangat membenci kehadiran hujan. Rumah saya juga kebanjiran sewaktu hujan deras. Jika dahulu saya biasa tenang menghadapi hujan, jika dahulu saya begitu menikmati setiap tetes hujan, maka di rumah saya sekarang, kami sekeluarga harus was-was karena hujan. Sewaktu-waktu hujan bisa jadi sangat deras. Sewaktu-waktu, rumah kami bisa kebanjiran. Walaupun demikian, saya masih tetap senang dengan datangnya hujan. Saya masih senang mendengar rintik hujan di genteng rumah.

Di lain waktu seringkali juga kita protes jika hujan tidak kunjung turun. Pana begitu menyengat. Cuaca begitu tidak bersahabat. Semua terasa panas. Tensi darah terasa naik. Emosi jadi labil dan sangat tidak nyaman. Mudah-mudahan saya selalu berusaha untuk menikmati di kala hujan ataupun cuaca panas. Saya ingin menyukuri bahwa keduanya haru datang silih berganti. Walaupun saya menikmati hujan, tidak berarti saya harus prote karena cuaca panas, dan mudah-mudahan anda juga begitu. Hanya karena hujan terlalu sering, mudah-mudahan tidak membuat kita protes pada Tuhan. Karena jika kita melakukannya. Nikmat apa lagi yang akan kita pungkiri?

Hidup Sepenuhnya

Saya lelah mengejar sesuatu yang bukan saya inginkan, saya lelah menjadi seseorang yang bukan diri saya. Saya ingin hidup sepenuhnya. Hidup seutuhnya. Hidup dengan penuh arti dan rasa syukur. Saya ingin melakukan sesuatu yang saya cintai. Melakukan sesuatu dengan penuh suka cita, dengan penuh kegembiraan. Persis seperti seorang anak kecil yang sedang bermain dengan riang.

Konon, kita akan menjadi besar dengan melakukan yang kita cintai. Konon Kita tidak mungkin menjadi yang terbaik dengan mengerjakan sesuatu yang tidak betul-betul kita inginkan. Konon, kita tidak akan pernah mencapai tempat yang ingin kita tuju, jika saat ini kita masih berada di tempat yang sebetulnya tidak ingin kita berada.

Suatu saat saya akan mati seperti yang lain. Dan sampai detik ini, saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Apa yang sudah saya lakukan untuk dunia?. Saya ingin sekali memberi arti sebelum saya mati. Saya ingin sekali menjadi sesuatu bagi orang lain. Menjadi sesuatu bagi dunia, bagi sesama. Saya tidak ingin membuang banyak waktu dalam hidup saya, dan berkutat dengan hal-hal yang tidak saya cintai. Saya ingin menghabiskan sisa waktu hidup saya dengan penuh suka cita. Saya ingin menjadi tua dengan apa yang saya cintai.

Jika saya memilih menjadi tua, maka saya ingin menjadi ciputra. Jika saya memilih menjadi tua, saya ingin menjadi Kolonel Sanders. Mereka menghabiskan sisa tuanya dengan sangat produktif. Memberi arti bagi sesama. Memberi arti bagi dunia.

Kapan saya bisa seperti mereka? Terkadang mengurusi hal-hal sepele pun saya masih banyak salah. kapan saya akan naik peringkat? Kapan saya akan memikirkan nasib orang lain. Kapan saya akan memikirkan perut orang lain. Kapan saya akan memikirkan masa depan orang lain. Kapan?, jika sekarang, saya masih duduk di sini. Memikirkan rasa takut akan masa depan.

Jika Ingin Berbahagia, maka Berbahagialah...

Tuesday, January 19, 2010

“Jika anda ingin berbahagi, maka berbahagialah…”

Itu adalah salah satu petuah bijak dari seorang besar dunia. Saya mungkin seperti orang kebanyakan yang akan langsung bertanya, “bagaimana caranya?”. Iya saya tahu bahwa kita harus bahagia, namun bagaimana caranya?. Masa sih mau bahagia, ya bahagia begitu saja. Ah…rasanya sulit sekali mencerna kata-kata bijak tersebut. Mungkin kalau kata-katanya: “Jika ingin berbahagia, maka carilah banyak harta…” itu lebih spesifik dan mudah dimengerti.



Saya juga pernah mendengar nasihat bijak dari seseorang (saya lupa, apakah ini saya dapat dari kehidupan nyata saya, ataukah dari film yang saya tonton). Namun kurang lebih begini kata-katanya: “Sedih dan bahagia itu hanyalah soal fokus. Hanya soal bagaimana kita menempatkan fokus pikiran kita kepada yang membahagiakan. Jika kita hanya berfokus pada hal-hal yang membuat kita sedih, membuat kita marah dan kesal, maka itulah yang akan terjadi pada kita”. Namun sebaliknya, jika kita mulai membiasakan untuk lebih berfokus pada yang pada yang dapat membuat kita bahagia, maka itu akan membahagiakan.


Anda pernah dengar kan kata-kata, “Obat yang paling manjur di dunia adalah tertawa”. Para ahli kedokteran bahkan secara terang-terangan mengakui, bahwa sebagian besar penyakit yang dialami seorang pasien adalah lebih disebabkan karena luka batinnya. Sedih, takut, marah, kecewa, akan menghasilkan depresi. Depresi akan meningkatkan resiko bagi datangnya berbagai penyakit.


Jadi, kenapa kita sekarang masih senang sekali untuk bersedih-sedih? Bagaimana kalau mulai dari sekarang kita coba untuk melihat di sekeliling kita tentang semua yang bisa membahagiakan kita. Bahwa kita masih punya pekerjaan sedangkan yang lain masih banyak yang menganggur, atau kita masih bisa bekerja, membangun usaha, sedangkan yang lain mungkin mengurus dirinya sendiri saja sulit. Bahagialah karena Tuhan masih memberikan kita kesempurnaan fisik untuk bekerja sementara banyak orang di luar sana harus hidup dalam penuh ketidaksempurnaan fisik. Bahagialah bahwa saat ini kita memiliki tempat berteduh, kita masih bisa terlindung dari hujan dan panas, dan masih bisa beristirahat jika malam tiba, sementara banyak orang di luar sana yang harus hidup beratapkan langit.


Berbahagialah karena kita masih mempunyai pikiran yang sehat. Banyak hal yang masih bisa kita rencanakan. Banyak yang masih harus kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita. Berbahagialah kita masih diberi kesehatan akal dan mental sementara banyak orang di luar sana harus termenung sedih meratapi saudaranya, keluarganya dan bahkan sekedar orang yang dikenalnya, yang harus mengalami kekurangan secara akal dan mental. Dan bahkan masih ada seribu satu alasan untuk orang-orang yang kurang beruntung tersebut, untuk dapat menyebut dirinya “orang beruntung”.


Di atas langit masih ada langit. Di atas orang yang pintar, masih ada banyak orang yang pintar. Di atas orang besar, masih ada banyak orang besar, di atas orang yang bahagia masih banyak orang bahagia, dan begitupun dengan yang kekurangan dan yang menderita. Sehebat dan senikmat apapun Anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita, masih ada seribu satu alasan untuk mengingkarinya. Masih ada seribu satu alasan untuk kita memilih menjadi orang yang selalu merasa kurang dan menderita, dan begitu pun sebaliknya. Masih ada seribu satu alasan bagi mereka yang selama ini dianggap kurang, kecil dan terbuang, untuk bisa menyebut dirinya “si paling beruntung”.


Mereka yang selalu kita anggap penuh kesulitan hidup, namun masih mempunyai banyak senyum untuk dibagikan kepada orang lain di sekitarnya. Ada seribu satu alasan bagi mereka untuk selalu tersenyum bahagia, ada seribu satu alasan bagi mereka untuk mensyukuri hidup ini. Bagaimana menurut anda? Apa mungkin mereka sudah gila? Atau justru kita yang gila? Atau…semua ini Cuma masalah fokus. Fokus kepada yang membahagiakan, fokus kepada yang membuat kita merasa senang.

Menemukan sumber ketakutan kita

Sunday, December 27, 2009

“kita tidak akan pernah menjadi (lebih) berani tanpa mengetahui ketakutan kita”

Saya lupa darimana saya mendapatkan kata-kata di atas (jika anda tahu, tolong beritahu), mungkin dari seorang psikolog, seorang pembicara hebat, seorang motivator, politisi, artis atau siapalah…. namun bagaimanapun pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa memang kita akan sulit untuk benar-benar menjadi berani tanpa benar-benar tahu apa yang menjadi sumber ketakutan kita.

Saya, sebagaimana juga anda, sebagaimana manusia biasa, kita semua pernah merasa takut. Sebagian orang bahkan lebih sering takut ketimbang bersikap berani. Kita semua, sebagaimana juga orang lainnya, sangat sadar-sepenuhnya-bahwa menjadi berani adalah penting. “Kita harus berani”, itulah kata yang sudah sangat sering coba ditanamkan ke dalam pikiran kita. Entah berapa banyak kita sudah memasukkan sugesti semacam itu untuk diri kita. Entah sugesti yang secara sadar kita lakukan sendiri maupun sugesti yang coba ditanamkan orang lain kepada kita. Intinya tetap sama, bahwa menjadi berani itu penting.

Pertanyaannya kemudian, sampai berapa lama kita bisa menjadi (lebih) berani?. Sampai berapa lama kita harus memasukkan sugesti itu semacam di atas, kepada kita?. Apa lagi yang kita butuhkan? Berapa orang yang mesti mensugesti kita agar kita kita bisa (lebih) berani?. Pengalaman seperti apa yang harus anda alami agar merasa lebih baik-agar merasa (lebih) berani?.
Konon, kebencian bisa member kita kekuatan (keberanian), konon penderitaan bisa member kita kekuatan. Lantas, penderitaan semacam apa yang harus kita temui untuk bisa (lebih) berani?. Apa lantas semua itu lalu bisa memberi kita perasaan yang lebih baik?

Seorang motivator pernah bilang, bahwa untuk menjadi berani, maka jangan takut (beranilah), untuk menjadi rajin, maka rajinlah (jangan malas), dan untuk menjadi bahagia, berbahagialah (jangan sedih). Lantas untuk menjadi “beranilah” itu bagaimana?, mungkin ini salah satu dari sekian banyak pendekatan untuk menjadi (lebih) berani. Temukanlah sumber ketakutan anda.

Jika anda takut pada ular, atau binatang buas lainnya itu adalah hal yang normal (lumrah), tentunya bukan ketakutan semcam itu yang kita bicarakan di sini. Adalah normal untk merasa takut kepada yang bisa menyakiti kita, bisa membahayakan kita, yang mengancam jiwa kita, yang bisa membuat kita terluka (secara fisik), dsb. Namun sayangnya ketakutan semacam itu bukan satu-satunya ketakutan kita.

Kita seringkali takut untuk sesuatu yang mungkin bagi orang lain, hal itu merupakan ketakutan yang menggelikan. Kadang kita takut untuk mencoba hal-hal baru dalam hidup, kita takut untuk mengambil keputusan, kita takut untuk berkenalan dengan orang-orang baru, takut untuk bertemu banyak orang, takut berbicara di depan banyak orang, dan lain sebagainya.

Tentunya anda yang paling tau diri anda, anda yang paling mengerti tentang masalah anda. Karena ketakutan itu ada dalam diri anda, maka hanya diri anda yang dapat menolong diri anda sendiri. Tentu kita tidak dapat membicarakan satu-persatu bagaimana kita bisa lepas dari jerat ketakutan, dan membuka diri untuk menjadi lebih berani di sini. Tapi mulailah saat ini anda benar-benar merenungkan tentang perasaan anda itu.

Misalnya, kenapa kita takut bertemu orang? Apa kita berbuat salah pada dia atau keluarganya? Apa pernah kita menyakitinya? Apakah kita seorang kriminal yang sedang dicari-cari ?. Apa ada yang salah dalam diri kita? Apa kita merasa malu dengan keadaan diri kita? Fisik kita? Atau ada kekurangan dalam diri kita? Apa menurut anda orang yang anda hadapi saat itu akan menjatuhkan anda dengan kekurangan itu? jika tidak, lantas apa yang anda takutkan? Dan jika iya, maka di mana letak kesalahannya? Apakah memang sudah sepantasnya anda diperlakukan tidak adil seperti itu (anda di hina, anda dilecehkan)? Atau apakah memang anda sebaiknya tidak dekat-dekat dengan orang semacam itu, karena ia adalah “racun” yang harus dienyahkan?. Apakah itu yang anda takutkan? Anda takut dipermalukan? Anda takut disakit secara psikologis?. Atau apa semua di atas itu salah? Lantas, apa yang benar?. Andaa akan selangkah lebih dekat dengan keberanian, begitu anda tau dengan pasti tentang apa yang sebenarnya anda takutkan.


BERFIKIR DUA KALI (untuk membuang sampah sembarangan)

Monday, December 21, 2009

Suatu hari saya pergi ke suatu tempat di alam terbuka (hiking) bersama dengan beberapa orang teman. Kami tergabung dalam suatu kelompok pecinta alam- Kelompok yang terkenal dengan kegiatan outdoor activitiesnya. Ketika beberapa lama kami berjalan, kami berhenti sejenak untuk beristirahat melepas lelah. Beberapa teman sibuk mengamati peta untuk mencari jalur terbaik untuk dilalui, beberapa ngobrol, dan yang lainnya ngemil. Saya termasuk yang ngemil, saya ambil permen dari saku saya & mengunyah dengan nikmat sambil menikmati alam sekitar.

Selagi menikmati permen, saya pegang bungkus permen, sedikit celingak-celinguk, mencari tempat di mana kira-kira saya bisa buang sampah bungkus permen itu. Tetapi, karena tidak ada tempat yang cocok, saya buang bungkus permen itu di begitu saja di sana, di alam yang seharusnya kami rawat dan pelihara, seperti semboyan kelompok pecinta alam kami.

Saya berpikir mungkin bukan hal yang bermasalah untuk hanya membuang sampah bungkus permen, toh, hanya bungkus permen, satu bungkus permen kecil. “Ah….alam ini terlalu luas untuk hanya sebungkus pemen..” Saya tidak menyadari bahwa seorang teman melihat perbuatan saya itu.
Teman saya ini memang lebih senior dari saya, ia yang mendidik teman seangkatan saya di kelompok pecinta alam ini. Ia tampak memperhatikan bungkus permen yang saya buang itu selama beberapa saat dan kemudian melihat ke arah saya. Tatapannya agak aneh, agak lama terdiam dan cukup tajam. “ ye…buang sampah lagi lo !! gimana sih, pecinta alam buang sampah”, Pungut!!”. Saya tiba-tiba tersentak, bukan karena kaget, bukan karena takut, bukan pula karena ia senior saya.

Saya kaget karena ternyata teman saya ternyata tidak main-main. Ia tidak main-main dengan jargon “menjaga kelestarian alam” yang selalu didengungkan oleh kelompok pecinta alam kami. Ia tidak main-main ketika dulu mengajari kami untuk menjadi pecinta alam sejati. Seorang petualang alam yang tidak boleh meninggalkan apapun di alam kecuali jejak. Bukan petualang kebanyakan. Petualang yang hanya bersenang-senang di alam dan meninggalkan banyak “kenangan” di alam. Kenangan berupa sampah dan botol minuman, dan bahkan tulisan-tulisan di alam sekitar. Tulisan-tulisan yang ingin sekali menegaskan tentang keberadaan mereka di sana, bak prasasti Raja-raja jaman dahulu.


Teman saya masih memegang teguh prinsip itu, bahkan di saat acara jalan-jalan santai seperti yang kami lakukan. “Jadi, itu semua bukan jargon doang ya…”, kira-kira begitu mungkin saya bergumam dalam hati. Sejujurnya saya malu pada saat itu, malu karena ternyata saya belum menjadi seperti apa yang pernah diajarkannya kepada saya. “Ah….kemana saja otak saya, sampai-sampai tidak terpikir untuk sementara membuang sampah itu di kantong…”.
Teman saya benar, seandainya semua orang penikmat alam seperti saya, membuang bungkus permen mereka masing-masing, satu bungkus, dua bungkus, lagi dan lagi…lantas mau jadi apa alam ini?. Mungkin suatu hari yang kita daki bukan lagi gundukan tanah, tapi gundukan sampah.

Sejak kejadian itu, saya sedikit tersadar. Penting sekali untuk benar-benar konsisten. Penting sekali untuk bersikap peduli, benar-benar peduli lingkungan. Penting sekali untuk tidak menjadi orang kebanyakan. Bahkan untuk hal-hal yang (tampak) kecil dan sederhana seperti ini, bungkus pemen.

Mulai hari itu saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa saya akan lebih memperhatikan hal-hal seperti itu (sampah). Saya berjanji untuk lebih peduli dan berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan. Jika pada akhirnya saya harus membuang sampah, paling tidak saya sudah berpikir dua kali. Saya pikir itu cukup baik, toh semua orang butuh proses untuk menjadi lebih baik…

Mungkin saya belum benar-benar seorang pecinta alam sejati, seorang yang benar-benar konsisten menjaga alam dan tidak mengotorinya. Terkadang saya masih juga bandel membuang sampah dengan berbagai alasan; tidak ada kantong, tidak bawa tas, tidak ada satupun tempat di pakaian yang melekat di badan, untuk dapat dijadikan TPS (Tempat Pembuangan Sementara), ataupun karena tepat di depan mata saya; di stasiun kereta, terminal bis, pasar-pasar, jalan umum dll, sudah terdapat gundukan sampah yang menjulang tinggi.”Ya…elah…gue repot-repot mikirin tempat sampah, eh nih orang-orang pada seenak udel aja buang sampah sembarangan...Ya Allah..karena aku nggak ada tempat lagi, aku mohon ijin untuk membuang di sini ya..” begitu kira-kira pintaku dalam hati.

Saya sadar saya salah. Seandainya semua orang imannya selemah itu, gundukan sampah itu bukannya makin berkurang, malah bakal semakin tinggi. Saya sadar saya salah dan saya merasa menyesal. “Tapi, toh saya sudah berpikir dua kali untuk tidak membuang sampah sembarangan”, begitu kira-kira ego saya membela diri. Saya harap saya akan lebih kuat di kemudian hari, kuat untuk tidak membuang sampah sembarangan, kuat untuk tidak menjadi orang kebanyakan.

Saya berharap bahwa di hari selanjutnya saya bisa berfikir tiga kali untuk membuang sampah sembarangan, di hari esoknya empat kali, besoknya lagi lima dan begitu seterusnya hingga 1000 kali. Entah berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk berfikir mencari alasan ke 1001-nya. Pada saat itu, mungkin saya akan benar-benar begitu tertekan dan berfikir akan lebih baik jika saya masukkan saja sampah itu ke mulut saya.

Saya berharap begitu, saya berharap bahwa saya harus lebih baik. Lebih baik tertekan dan merasa bersalah karena tidak melakukan hal yang benar ketimbang berkubang dalam salah dan dosa tanpa perasaan apapun. Membuang sampah sembarangan adalah salah dan sudah seharusnya merasa bersalah.

Saya tidak menghitung, sampai hari ini berapa kali saya harus berfikir untuk tidak membuang sampah sembarangan, tapi paling tidak saya sudah pernah berpikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan. Saya pikir itu cukup adil, Toh semua orang butuh waktu untuk berubah…

Menurut saya berfikir dua kali untuk tidak membuang sampah sembarangan sudah lebih baik, paling tidak kita sudah sedikit berbeda, paling tidak kita tidak seperti kebanyakan orang. “Ah…memang tidak mudah menjadi pecinta alam sejati…”. Bagaimanapun saya bersyukur pernah dididik nilai-nilai “sederhana” ini. Saya bersyukur bahwa saya ada di antara mereka yang memiliki nilai lebih, mereka yang memiliki pandangan (baik) yang berbeda, yang tidak seperti kebanyakan orang.

Kalau ditanyakan, apa salah satu perbedaan antara seorang pecinta alam dan yang bukan, saya akan menjawab sederhana. “Paling tidak, seorang pecinta alam akan berfikir dua kali untuk membuang sampah sembarangan”, saya pikir itu cukup adil, toh pecinta alam juga manusia, kita butuh waktu untuk berubah…(lebih baik).

Belajar dari seorang supir

Thursday, December 10, 2009

Siang ini saya ada tugas ke luar kantor, diantar oleh supir kantor. Ada yang menarik sewaktu saya mengamati perilaku supir ini. Sepanjang perjalanan, dia sangat sering menggunakan telepon. telpon ke sana ke mari. sedikit heran tentang berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk aktifitas komukasinya itu. namun sejauh yang pengamatan saya, supir yang satu ini cukup produktif dalam menggunakan alat komunikasinya.

Dia menggunakan alat komunikasi (hp) untuk menghubungi beberapa orang yang sepertinya terkait dengan masalah bisnis. ya, ini yang saya suka dari orang-orang macam ini. meskipun dia seorang supir, dia berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan. saya sangat mengapresiasi itu. namun, di sini saya tidak ingin membicarakan hal tersebut.

Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya terkesan dengan supir yang satu ini, yaitu cara dia untuk tetap dekat dengan keluarganya. Sepanjang kurang lebih 3 jam perjalanan, mungkin dia telah lebih dari 2 (dua) kali menelpon anak dan istrinya. menanyakan kabar, menanyakan tentang aktifitas yang sedang mereka lakukan, menanyakan apa mereka sudah makan atau belum.

Terus terang, mungkin bagi sebagian orang hal tersebut sama sekali tidak menarik. mereka yang memandang tidak menarik bisa karena berbagai alasan. yang pertama, bisa saja mereka beranggapan bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat lumrah dan biasa mereka lakukan, sehingga tidak ada yang istimewa untuk dipuji dan diapresiasi atau kemungkinan lain adalah bahwa tindakan supir tersebut benar-benar "tidak masuk hitungan" untuk diapresiasi, bukan karena mereka biasa memperlakukan keluarga mereka demikian, namun karena mereka justru tidak pernah memperlakukan mereka demikian.

Orang-orang tipe kedua ini sebetulnya sudah terbiasa atau mungkin sudah membiasakan diri untuk bersikap tidak ambil bagian dari kehidupan keluarga. mereka, orang-orang ini bisa juga kita sebut orang yang cuek terhadap keluarganya. mereka tidak tertarik untuk menghubungi kelauara mereka. Mungkin bagi mereka menanyakan kabar, menanyakan apakah anak-anak dan istri mereka sudah makan atau belum adalah suatu yang basa-basi dan membuang-buang waktu.

Saya tidak ingin menghakimi siapapun. saya hanya ingin belajar dari supir ini. saya belajar banyak hari ini. belajar dari seorang supir, tentang bagaimana membina hubungan keluarga yang baik. Saya mungkin tidak betul-betul mengenal baik si supir ini. Yang saya tau adalah bahwa dia sudah menunjukkan kasih sayangnya terhadap keluarganya.

Saya ingin belajar dari supir ini. saya ingin, ketika saya membina hubungan keluarga kelak, saya berjanji untuk melakukan hal yang sama terhadap istri dan anak saya. Sesibuk apapun saya, saya ingin sekali berjanji bahwa saya akan menanyakan kabar keluarga saya tercinta. Saya ingin berjanji untuk melakukan itu. Saya berharap saya tidak mengingkari janji saya ini. Saya berharap saya tidak cukup kaku menghadapi rumah tangga saya kelak.

Saya tidak ingin melangkan salah. Saya sadar kekurangan diri saya. Saya orang yang kaku dan membosankan. Saya serius dan sulit untuk bersantai. Saya tidak ingin berasalan dengan sikap saya itu. Saya tidak ingin kompromi. Mungkin sulit bagi orang-orang seperti saya untuk bisa mengekspresikan perasaan/kasih sayang. Saya yakin saya bukan satu-satunya. Ada banyak orang di luar sana yang senasib dengan saya. mereka yang benar-benar sadar pentingnya hubungan baik dan kasih sayang, tetapi tidak pernah dapat menunjukkan ekspresinya.

Saya tidak mau mencari kambing hitam, saya tidak mau mencari-cari alasan untuk tidak seperti si supir. Saya harus sangat mudah untuk tersenyum, tertawa dan bercanda dengan keluarga saya kelak. Saya bangga dengan seorang ayah dan suami yang humoris, yang tidak hanya memberikan ketentraman bagi keluarganya, tetapi juga kehangatan dalam rumah tangga. Saya harus bisa melakukan semua itu. Saya harus belajar dari supir itu dan saya harus lebih berhasil darinya.

Ilmu atau harta ?

Sunday, November 29, 2009

Kata orang harta itu tidak bisa membuat kita bahagia?. Lantas, apa yang bisa membuat kita bahagia?. Sebagian orang berpedandapat, agar kita jangan sampai terlena dengan harta, agar kita tidak menjadi pemburu harta. Karena harta tidak bisa membuat orang bahagia dan harta tidak dibawa mati. Orang-orang ini bisa memberikan beribu-ribu contoh untuk menguatkan dalil mereka-bahwa harta tidak bisa membuat kita bahagia.
Sebagian orang berpendapat agar lebih baik kita mencari ilmu. Karena konon, ilmu itu seperti kail, dan harta itu seperti ikan. Kita tidak akan pernah kekurangan harta apabila kita memiliki ilmu. Dengan pesan moral ini juga sebagian kita diajarkan untuk memberikan "kail" kepada orang lain dan bukan memberikan ikan. "Ilmu itu dibawa mati, dan itu yang membuatnya pantas dikejar", begitu kira-kira pesan moral singkatnya.
Apa iya, ilmu bisa memberikan kita kebahagiaan?. Padahal, saya bertemu begitu banyak orang pintar. Orang berilmu. Orang berwawasan luas. Sebagian dari mereka memang ada yang tersenyum penuh kesyukuran. Saya tidak tahu apakah mereka yang tersenyum itu juga memiliki harta banyak di rumah mereka, yang jelas orang-orang pintar semacam ini memang ada.
Saya hampir yakin bahwa memang ilmu lah yang mungkin bisa memberikan kebahagiaan. Tetapi saya juga banyak bertemu dengan orang pintar, orang berilmu, berwawasan luas. Tidak perlu diragukan bahwa mereka ini memang pintar. Namun demikian, saya sulit mendapati mereka dalam kebahagiaan. Sulit bagi saya untuk menangkap rona kebahagiaan dari mata mereka. Sulit menemukan kesyukuran dalam jiwa mereka (paling tidak, itu yang saya lihat), sehingga yang saya lihat, justru sebaliknya.
Sebagian dari orang-orang yang pintar itu adalah dekat dengan saya, jadi kali ini saya tahu tentang keadaan harta mereka. Saya tidak mendapati bahwa mereka miskin. jelas, mereka tidak miskin. Tapi bahwa mereka juga belum sejahtera, itu bisa saya anggukan kepala. Entahlah...yang jelas mereka terlihat kurang "cerah", kurang "bergairah", dan seperti ada awan hitam yang menyelimuti wajah mereka. jujur, saya tidak mendapatkan kebahagiaan di mata mereka.
Saya tidak tahu pasti, bagaimana mungkin orang-orang mengatakan bahwa harta bukan kunci kebahagiaan. Buat saya, bukankah seperti halnya ilmu, harta adalah komponen kebahagiaan itu sendiri. Mungkin ada sebagian orang yang benar-benar bisa benar-benar bahagia dalam kezuhudan yang mengesankan, tetapi tampaknya hal itu bukanlah ukuran umum yang berlaku di masyarakat.
Saya tidak tahu pasti bagaimana mungkin sebagian dari orang-orang itu mengatakan bahwa kekayaan tidak bisa membuat kita bahagia, padahal seumur hidup, mereka bahkan belum pernah hidup dalam limpahan harta. Tentu saja, hanya karena kita tidak bisa mendapatkannya, bukan berarti kita boleh iri terhadap mereka yang mendapatkannya.
Saya tidak tahu pasti, bagaimana mungkin mereka mengatakan bahwa hanya ilmu yang pantas untuk dikejar dan bahwa ilmu adalah kunci kebahagiaan, semantara banyak sekali orang berilmu di luar sana yang masih kebingungan mencari seesuap nasi. Bagaimana mungkin orang-orang ini harus memisahkan antara ilmu dan harta?. bukankah dalam hal (mencari) harta terdapat ilmu juga di dalamnya?. Bukankah mereka yang sekarang ini hidup dalam kebahagiaan, kesyukuran dan senyum ramah yang selalu tersungging di bibirnya boleh selalu kita katakan sebagai "berilmu"?. Tidak peduli seberapa rendah pendidikan (formal) mereka.
Bukankah sudah saatnya sekarang ini kita mulai sadar, bahwa ilmu tidak perlu dipisahkan dari harta. karena dengan ilmu lah kita bisa mendapatkan harta. Bukankah berabad yang lalu teman dari panutan kita (sahabat rasul) juga pernah berkata bahwa untuk mendapatkan dunia (harta) harus dengan ilmu?, lantas kenapa kita saat ini menganggap bahwa mereka (hartawan) bukan orang berilmu. Jelas mereka berilmu, hanya saja fokus dari keilmuan mereka berbeda dengan fokus kebanyakan orang.
Seorang hartawan adalah orang yang berilmu (itu pasti dan kita tidak perlu memungkirinya). Seorang kaya yang sombong bahkan mungkin lebih baik daripada seorang miskin yang sombong, (paling tidak itu menurut saya). Oleh karena itu. hanya karena kita tidak mendapatkan apa yang telah mereka peroleh, bukan berarti kita boleh merendahkan mereka, dan hanya karena kita tahu sesuatu yang mereka tidak tahu, bukan berarti kita lebih baik dari mereka. Bahkan (kalau mau jujur) bukankah itu yang mungkin kebanyakan terjadi pada masyarakat kita, bahwa si "pintar" bekerja untuk si "bodoh", karena si "bodoh" tidak mungkin mau membayar seseorang yang tidak lebih "pintar" dari dirinya. Jadi, mungkin kita harus mendefinisikan ulang tentang pintar, bodoh, berilmu dan berharta

Di mana Kebahagiaan itu ada?

Apa sih kunci bahagia?. sebagian orang bilang bahwa bahagia itu ada dalam diri masing-masing. kebahagiaan itu tidak punya syarat untuk dimiliki. seorang filsuf besar bahkan pernah bilang, bahwa "jika anda ingin berbagia, maka berbahagialah". singkat, padat, namun tidak banyak yang bisa mencerna pesan itu. "iya, saya ingin bahagia...tapi caranya gimana..?!", itulah yang mungkin selalu ada di benak orang banyak begitu mendengar pesan filosif di atas.

Saya juga pernah mendengar, ada sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa "bahagia itu ada dalam jiwa yang bersyukur". Lagi-lagi rasanya tidak asing kita mendengar kata-kata tersebut. tapi mungkin kita harus jujur untuk mengakui bahwa kita jarang benar-benar mendalami maknanya. kita tau dan pernah mendengar, bahkan mungkin juga pernah merenunginya. Kita tahu apa maksudnya, tapi seringkali kita lalai. seakan tidak tau atau tidak pernah mau tau.

Pepatah bijak yang kedua tersebut di atas, tentunya mengajarkan/menasehatkan pada kita bahwa kita akan bahagia begitu jika kita punya rasa syukur. rasa syukur itu ada dalam hati/ dalam jiwa. Ketika kita mensyukuri apa yang telah kita dapatkan, apa yang telah kita capai. Karena pada dasarnya setiap yang kita peroleh adalah pemberian Tuhan.

Dalam kepercayaan saya (islam), Tuhan (Allah SWT) berfirman yang pada prinsipnya mengatakan bahwa Dia (Allah) akan menambahkan nikmat (karunia) bagi siapa yang bersyukur kepada nikmatNya dan akan mengazab mereka yang kufur (tidak bersyukur). Oleh karena itu, tepat rasa-rasanya jika kita selalu bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan, karena pada hakikatnya hidup yang penuh rasa kesyukuran akan memungkinkan kita mendapatkan yang lebih pada akhirnya nanti, dan demikian pula sebaliknya.

Mereka yang selalu merasa kurang akan selalu miskin, tidak peduli seberapa banyak yang telah mereka dapatkan, karena pada dasarnya mereka selalu mengingkari apa yang pernah mereka dapatkan. mungkin itu sebabnya para koruptor, para pemuja kekuasaan selalu haus akan apa yang mereka ingin capai. Seberapa banyak dan seberapa besar yang telah mereka peroleh, mereka akan terus memburu dan memburu. Tentu tidak ada yang salah dengan ambisi, hanya saja ketika cara yang mereka gunakan tidak benar dan tidak ada rasa kesyukuran di dalam hati mereka, itulah saat kehancurannya.

Jadi bagaimana menurut anda ? di mana kebahagiaan itu? Apa anda termasuk salah seorang yang masih selalu berpetualang jauh, mencari dan terus mencari arti kebahagiaan?

Aku (Allah SWT) adalah seperti apa yang Hambaku persangkakan

Sakit sekali rasanya, waktu kita nggak pernah bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. waktu kita menoleh ke teman-teman kita, mereka seperti begitu mudah mendapatkan semuanya. lantas, kenapa kita tidak? terkadang (atau bahkan sering) saya berfikir, bahwa apakah hidup ini adil?. Namun jika mengingat bahwa hidup adalah milik Tuhan dan Tuhanlah yang menentukan kehidupan, maka tentu berarti kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Tuhan (Allah SWT) Maha Adil. Dia Mutlak Adil dan itu tidak perlu dipertanyakan.

Seingat saya, dalam agama yang saya anut (islam), Allah berfirman yang pada intinya adalah bahwa Ia adalah seperti yang hambaNya persangkakan. Oleh karena itu, jika kita selalu berkeyakinan (berprasangka) bahwa Ia Maha Adil dan tidak mungkin tidak adil, maka begitulah Dia. Dan sebaliknya, jikalaupun kita berprasangka yang sebaliknya, maka Dia pun seperti yang kita prasangkakan. Jadi Allah (Tuhan) itu adil, Tuhan Maha Bijak, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pemberi Rizki ataupun bisa sebaliknya, Dia Jahat, Tuhan yang pelit, Dia ingin kita susah, Dia bisa salah, Dia Suka peperangan/kekerasan,maka semua itu bisa saja benar. Dan tentunya kita tahu tergantung apa Allah itu.

 
 
 

Blogwalking

 
Copyright © menurut saya